Struktur Modal
1.
Pengertian Struktur Modal
Perusahaan yang sedang berkembang memerlukan modal
yang dapat berasal dari hutang maupun ekuitas. Hutang mempunyai dua keuntungan
yaitu, pertama: bunga yang dibayarkan dapat dipotong untuk tujuan pajak
sehingga menurunkan biaya efektif dari hutang tersebut, kedua: pemegang hutang
(debtholder) mendapatkan pengembalian
yang tetap sehingga pemegang saham (stockholder)
tidak perlu mengambil bagian laba mereka ketika perusahaan dalam kondisi prima.
Namun hutang juga mempunyai beberapa kelemahan yaitu:
1. Semakin
tinggi rasio hutang (debt ratio) semakin
tinggi pula risiko perusahaan, sehingga suku bunganya mungkin akan lebih
tinggi.
2. Apabila
sebuah perusahaan mengalami kesulitan keuangan dan laba operasi tidak mencukupi
untuk menutupi beban bunga maka pemegang saham harus menutupi kekurangannya itu
bahkan perusahaan akan bangkrut jika mereka tidak sanggup.
Perusahaan dapat melakukan pembiayaan dengan kondisi
hutang, namun dalam pemenuhan kebutuhan dana, perusahaan harus mencari
alternatif-alternatif pendanaan yang efisien dengan memperhatikan struktur
modal yang dibuat.
Menurut Suad (2004) dalam Aizir Ali (2008)
mengemukakan bahwa struktur modal adalah pembiayaan pembelanjaan permanen
perusahaan dan penggantian struktur hutang dilakukan secara langsung yang
artinya apabila perusahaan menambah modal maka modal sendiri dikurangi.
Menurut Munawir (2002) dalam Anizir Ali (2008)
struktur modal adalah perimbangan hutang jangka pendek yang bersifat permanen, hutang
jangka panjang, saham preferen dan biasa.
Menurut Ridwan (2002: 285) dalam Anizir Ali (2008) struktur
modal merupakan salah satu keputusan keuangan yang lain. Untuk mencapai tujuan
perusahaan dalam memaksimalisasi kekayaan pemilik, manajer keuangan harus dapat
menilai struktur modal perusahaan dan memahami hubungannya dengan risiko,
hasil/pengembalian nilai keputusan struktur modal yang buruk dapat menimbulkan
biaya modal yang tinggi dan sebaliknya. Keputusan keuangan yang efektif dapat
merendahkan biaya modal perusahaan.
Struktur Modal ditentukan perbandingan antara hutang
jangka panjang dan modal sendiri yang digunakan perusahaan (Bambang, 2001:
296). Struktur modal merupakan kombinasi antara bauran segenap pos yang masuk
ke dalam sisi kanan neraca sumber modal perusahaan. Pengertian struktur modal
dibedakan dengan struktur keuangan, dimana struktur modal merupakan
pembelanjaan permanen yang mencerminkan antara hutang jangka panjang dengan
modal sendiri, sedangkan struktur keuangan mencerminkan perimbangan seluruh hutang
(baik jangka panjang maupun jangka pendek) dengan modal sendiri (Weston dan Brigham,
1994: 97).
Struktur atau komposisi modal harus diatur
sedemikian rupa sehingga terjamin stabilitas finansial perusahaan, memang tidak
ada ukuran yang pasti mengenai jumlah dan komposisi modal dari tiap-tiap
perusahaan, tetapi pada dasarnya pengaturan terhadap struktur modal dalam
perusahaan harus berorientasi pada tercapainya stabilitas finansial dan
terjaminnya kelangsungan hidup perusahaan.
2.
Faktor - Faktor yang Mempengaruhi Struktur
Modal
Salah satu tugas manajer keuangan adalah memenuhi
kebutuhan dana di dalam melakukan tugas tersebut manajer keuangan diharapkan
adanya suatu variasi dalam pembelanjaan, dalam arti kadang-kadang perusahaan
lebih baik menggunakan dana yang bersumber dari hutang kadang-kadang perusahaan
lebih menggunakan modal sendiri (equity). Oleh karena itu, manajer
keuangan di dalam operasi perlu berusaha untuk memenuhi sasaran tertentu
mengenai pertimbangan antara lain besarnya hutang, modal sendiri yang tercemin
dalam struktur modal perusahaan perlu diperhitungkan berbagai faktor-faktor
yang mempengaruhi keputusan struktur modal yang dapat diuraikan antara lain:
(Brigham dan Houston, 2010: 188-190)
1.
Stabilitas Penjualan.
Suatu perusahaan yang penjualannya
relatif stabil dapat secara aman mengambil hutang dalam jumlah yang besar dan
mengeluarkan beban tetap yang lebih tinggi dibandingkan dengan perusahaan yang
penjualannya tidak stabil.
2.
Struktur Aset.
Perusahaan yang asetnya memadai
digunakan sebagai jaminan pinjaman cenderung akan cukup banyak menggunakan hutang.
Aset umum yang dapat digunakan oleh banyak perusahaan dapat menjadi jaminan
yang baik, sementara tidak untuk dengan tujuan khusus.
3.
Leverage
Operasi.
Jika hal yang lain dianggap sama,
perusahaan dengan leverage operasi
yang rendah akan lebih mampu menerapkan leverage
keuangan karena perusahaan tersebut akan memiliki risiko usaha yang lebih
rendah.
4.
Tingkat pertumbuhan.
Jika hal yang lain dianggap sama,
maka perusahaan yang memiliki pertumbuhan lebih cepat harus lebih mengandalkan
diri pada modal eksternal. Selain itu, biaya emisi yang berkaitan dengan jumlah
saham biasa akan melebihi biaya emisi yang terjadi ketika perusahaan menjual hutang,
mendorong perusahaan yang mengalami pertumbuhan pesat untuk lebih mengandalkan
diri pada hutang. Namun, pada waktu yang bersamaan, perusahaan tersebut sering
kali menghadapi ketidakpastian yang lebih tinggi, cenderung akan menurunkan
keinginan mereka untuk menggunakan hutang.
5.
Profitabilitas.
Seringkali diamati bahwa perusahaan
dengan tingkat pengembalian atas investasi yang sangat tinggi ternyata
menggunakan hutang dalam jumlah yang relatif sedikit. Meskipun tidak ada
pembenaran teoritis atas fakta ini. Tingkat pengembalian yang tinggi
memungkinkan perusahaan-perusahaan tersebut melakukan sebagian besar
pendanaannya melalui dana yang dihasilkan secara internal.
6.
Pajak.
Bunga merupakan suatu beban
pengurangan pajak, dan pengurangan ini lebih bernilai bagi perusahaan dengan
tarif pajak yang tinggi. Jadi makin tinggi tarif pajak suatu perusahaan, maka
makin besar keunggulan dari hutang.
7.
Kendali.
Pengaruh hutang dibandingkan saham
pada posisi kendali suatu perusahaan dapat mengurangi struktur modal. Jika saat
ini manajemen memiliki kendali hak suara (lebih dari 50% saham) tetapi tidak
berada pada posisi untuk membeli saham tambahan lagi, maka manajemen mungkin akan
memilih hutang sebagai pendanaan baru. Di lain pihak, manajemen mungkin
memutuskan untuk menggunakan ekuitas jika situasi perusahaan begitu lemah
sehingga penggunaan hutang mungkin dapat membuat perusahaan menghadapi risiko
gagal bayar, karena jika perusahaan gagal bayar, manajer kemunginan akan
kehilangan pekerjaannya. Akan tetapi, jika penggunaan hutang terlalu sedikit,
manajemen menghadapi risiko pengambilalihan. Jadi, pertimbangan kandali dapat
mengarah pada penggunaan baik itu hutang maupun ekuitas karena jenis modal yang
memberikan pelindungan terbaik kepada manajemen akan bervariasi dari satu
situasi kesituasi yang lain. Apa pun kondisinya, jika mananjemen merasa tidak
aman, maka manajemen akan mempertimbangkan situasi kendali.
8.
Sikap manajemen
Tidak ada yang dapat membuktikan
bahwa struktur modal akan mengarah pada harga saham yang lebih tinggi
dibandingkan struktur modal yang lain. Manajemen dapat melakukan pertimbangannya
sendiri mengenai struktur modal yang tepat. Beberapa manajemen cenderung lebih
konservatif dibandingkan yang lain, dan menggunakan hutang dalam jumlah yang
relatif kecil dibandingkan dengan rata-rata perusahaan didalam industrinya,
sementara manajemen yang agresif lebih banyak menggunakan hutang dalam usaha
mereka untuk mendapatkan laba yang lebih tinggi.
9.
Sikap pemberian pinjaman dan lembaga
pemeringkat
Tanpa mempertimbangkan analisis
manajemen sendiri atas faktor leverage
yang tepat bagi perusahaan, sikap pemberian pinjaman dan lembaga pemeringkat
sering kali akan mempengaruhi keputusan struktur keuangan. Perusahaan sering
kali akan membahas struktur modalnya
dengan pihak pemberi pinjaman dan lembaga pemeringkat serta sangat memperhatikan
saran mereka.
10. Kondisi
pasar
Kondisi pasar saham dan obligasi
mengalami perubahan dalam jangka panjang maupun jangka pendek yang dapat
memberikan arah penting pada struktur modal optimum suatu perusahaan.
Perusahaan berperingkat rendah yang membutuhkan modal terpaksa pergi kepasar
saham atau pasar hutang jangka pendek, tanpa melihat sasaran struktur modalnya.
Namun, ketika kondisi melonggar, perusahaan ini menjual obligasi jangka panjang
untuk mengembalikan struktur modalnya kembali kepada sasaran.
11. Kondisi
internal perusahaan
Kondisi internal suatu perusahaan
sendiri juga dapat berpengaruh pada sasaran struktur modalnya. Misalnya
perusahaan baru berhasil menyelesaikan suatu program litbang, dan perusahaan
berhasil meramalkan laba yang lebih tinggi dalam jangka waktu yang tidak lama
lagi. Namun, laba yang baru ini belum diantisipasi oleh investor, sehingga
tidak tercermin pada harga sahamnya. Perusahaan tersebut tidak akan menerbitkan
saham, perusahaan lebih memilih melakukan pendanaan dengan hutang sampai laba
lebih tinggi terwujud dan tercermin pada harga saham. Selanjutnya, perusahaan
dapat menjual penerbitan saham biasa, menggunakan hasilnya untuk melunasi hutang
dan kembali pada struktur modalnya.
12. Fleksibilitas
keuangan.
Sasaran utama perusahaan selalu
berada dalam posisi yang dapat menghimpun modal untuk mendukung operasi.
Menghimpun modal dilakukan baik melalui saham ataupun obligasi, tetapi apabila
keadaan memburuk, pemasok modal akan lebih bersedia menyediakan dana jika
perusahaan memberikan mereka posisi yang kuat. Selain itu, ketika perusahaan
menjual saham baru, maka hal ini akan mengirimkan sinyal negatif kepada
investor, sehingga penjualan saham yang dilakukan oleh perusahaan yang sudah
mapan merupakan suatu tindakan yang tidak diinginkan.
3.
Bentuk Struktur Modal
Adapun bentuk dari struktur modal dilihat dari jenis
yang digunakan dapat dibedakan menjadi 2, seperti yang dikemukakan oleh Weston
& Brigham (2001: 31):
1.
Simple
Capital Structure
Yaitu apabila
perusahaan hanya menggunakan modal sendiri saja. Dengan demikian, tidak ada
ketergantungan perusahaan terhadap modal dari pihak luar dan cakupan
mengandalkan modal sendiri.
2.
Complex
Capital Structure
Yaitu apabila perusahaan
menggunakan modal sendiri dan modal pinjaman jangka panjang. Dalam hal ini, ada
beberapa kategori dari bentuk struktur modal ini, yaitu:
-
Apabila perusahaan dalam memenuhi
kebutuhan dananya mengutamakan pemenuhan sumber dari dalam perusahaan, akan
sangat mengurangi ketergantungan kepada pihak luar.
-
Apabila dalam pemenuhan kebutuhan dana
dari sumber eksternal tersebut perusahaan lebih mengutamakan pada hutang saja,
maka ketergantungan perusahaan pada pihak luar akan makin besar dan risiko
keuangannya pun semakin besar.
4.
Teori Struktur Modal
Berikut ini merupakan teori struktur modal yaitu:
1.
Agency
Theory
Teori agensi (Horne, 1995 dalam Hasa 2008) adalah
suatu teori yang menjelaskan adanya pertentangan posisi antara manajemen
(sebagai agen) dengan pemegang saham (sebagai pemilik). Para pemegang saham
berharap agar agen akan bertindak atas kepentingan mereka sehingga dapat
meningkatkan nilai perusahaan, sekaligus memberikan keuntungan pada pemegang
saham. Untuk melakukan fungsinya dengan baik, maka manajemen harus diberikan
intensif yang memadai, dan juga sekaligus pengawasan yang baik. Pengawasan
dapat dilakukan dengan cara-cara seperti pengikatan agen, pemeriksaan laporan
keuangan perusahaan, dan pembatasan terhadap keputusan yang dapat diambil
manajemen. Kegiatan pengawasan tentu saja membutuhkan biaya. Biaya ini yang
disebut dengan biaya agensi. Biaya yang timbul pasti merupakan tanggungan pemegang
saham.
2.
Pecking Order Theory
Menurut Myer (1984) dalam Hasa (2008), pecking order theory menyatakan bahwa:
a) Perusahaan
menyukai internal financing
(pendanaan dari hasil operasi perusahaan, yang berwujud laba ditahan).
b) Apabila
dana dari luar (external financing)
diperlukan maka perusahaan akan menerbitkan sekuritas yang paling aman terlebih
dahulu, yaitu: dimulai dengan menerbitkan obligasi, kemudian diikuti oleh
sekuritas yang berkarakteristik opsi (seperti obligasi konversi), baru kemudian
apabila masih belum mencukupi akan menerbitkan saham baru.
Sesuai dengan teori ini, tidak ada suatu target debt equity ratio, karena ada dua jenis
modal sendiri, yaitu internal dan eksternal. Perusahaan lebih menyukai
penggunaan dana dari modal internal yakni dana yang berasal dari aliran kas,
laba ditahan dan depresiasi. Urutan penggunaan sumber dana dengan mengacu pada pecking order theory adalah internal fund (dana internal), debt (hutang) dan equity (modal sendiri).
Dana internal lebih disukai dari dana eksternal
karena dana ekternal memungkinkan perusahaan untuk tidak perlu “membuka diri
lagi” dari sorotan pemodal luar. Kalau bisa memperoleh sumber dana yang
diperlukan tanpa memperoleh “sorotan dan publisitas publik” sebagai akibat
penerbitan saham baru.
Dana eksternal lebih disukai dalam bentuk hutang
dari pada modal sendiri karena dua alasan (Suad: 1996 dalam Hasa 2008), yaitu:
a. Pertimbangan
biaya emisi.
Biaya
emisi obligasi lebih murah dari biaya saham baru. Hal ini disebabkan karena
penerbitan saham baru akan menurunkan harga saham lama.
b. Manajer
khawatir kalau penerbitan saham baru akan ditafsirkan sebagai kabar buruk (bad news) oleh para pemodal dan membuat
harga saham akan turun. Hal ini disebabkan antara lain oleh kemungkinan adanya
asimetrik antara pihak manajemen dengan pihak pemodal.
3. Trade
Off Theory
Merupakan model struktur modal yang mempunyai asumsi
bahwa struktur modal perusahaan merupakan keseimbangan antara keuntungan
penggunaan hutang dengan biaya financial
distress (kesulitan keuangan) dan agency
cost (biaya keagenan). Dari model dapat dinyatakan bahwa perusahaan yang
tidak menggunakan pinjaman sama sekali dan perusahaan yang menggunakan
pembiayaan investasinya dengan pinjaman seluruhnya adalah buruk. Keputusan yang
terbaik adalah keputusan yang moderat dengan mempertimbangkan kedua instrument
pembiayaan. Trade off theory
merupakan model yang didasarkan pada trade
off antara keuntungan dan kerugian penggunaan hutang. Trade off tersebut dipengaruhi oleh beberapa variabel. Umumnya oleh
keuntungan pajak dari penggunaan hutang, risiko financial distress dan penggunaan biaya agensi. Berdasarkan realita
yang berasal dari hutang dalam jumlah yang besar, penggunaan modal sendiri
mempunyai manfaat dan kerugian bagi perusahaan. Menurut Brigham (2001) dalam
Hasa (2008), hutang mempunyai keuntungan pada:
a. Biaya
bunga yang mempengaruhi penghasilan kena pajak, sehingga hutang menjadi lebih
rendah.
b. Kreditur
hanya mendapatkan biaya bunga yang bersifat relatif tetap, kelebihan keuntungan
akan menjadi klaim bagi pemilik perusahaan.