Sabtu, 10 September 2011

Struktur Modal


Struktur Modal
1. Pengertian Struktur Modal
Perusahaan yang sedang berkembang memerlukan modal yang dapat berasal dari hutang maupun ekuitas. Hutang mempunyai dua keuntungan yaitu, pertama: bunga yang dibayarkan dapat dipotong untuk tujuan pajak sehingga menurunkan biaya efektif dari hutang tersebut, kedua: pemegang hutang (debtholder) mendapatkan pengembalian yang tetap sehingga pemegang saham (stockholder) tidak perlu mengambil bagian laba mereka ketika perusahaan dalam kondisi prima. Namun hutang juga mempunyai beberapa kelemahan yaitu:
1.    Semakin tinggi rasio hutang (debt ratio) semakin tinggi pula risiko perusahaan, sehingga suku bunganya mungkin akan lebih tinggi.
2.    Apabila sebuah perusahaan mengalami kesulitan keuangan dan laba operasi tidak mencukupi untuk menutupi beban bunga maka pemegang saham harus menutupi kekurangannya itu bahkan perusahaan akan bangkrut jika mereka tidak sanggup.
Perusahaan dapat melakukan pembiayaan dengan kondisi hutang, namun dalam pemenuhan kebutuhan dana, perusahaan harus mencari alternatif-alternatif pendanaan yang efisien dengan memperhatikan struktur modal yang dibuat.
Menurut Suad (2004) dalam Aizir Ali (2008) mengemukakan bahwa struktur modal adalah pembiayaan pembelanjaan permanen perusahaan dan penggantian struktur hutang dilakukan secara langsung yang artinya apabila perusahaan menambah modal maka modal sendiri dikurangi.
Menurut Munawir (2002) dalam Anizir Ali (2008) struktur modal adalah perimbangan hutang jangka pendek yang bersifat permanen, hutang jangka panjang, saham preferen dan biasa.
Menurut Ridwan (2002: 285) dalam Anizir Ali (2008) struktur modal merupakan salah satu keputusan keuangan yang lain. Untuk mencapai tujuan perusahaan dalam memaksimalisasi kekayaan pemilik, manajer keuangan harus dapat menilai struktur modal perusahaan dan memahami hubungannya dengan risiko, hasil/pengembalian nilai keputusan struktur modal yang buruk dapat menimbulkan biaya modal yang tinggi dan sebaliknya. Keputusan keuangan yang efektif dapat merendahkan biaya modal perusahaan.
Struktur Modal ditentukan perbandingan antara hutang jangka panjang dan modal sendiri yang digunakan perusahaan (Bambang, 2001: 296). Struktur modal merupakan kombinasi antara bauran segenap pos yang masuk ke dalam sisi kanan neraca sumber modal perusahaan. Pengertian struktur modal dibedakan dengan struktur keuangan, dimana struktur modal merupakan pembelanjaan permanen yang mencerminkan antara hutang jangka panjang dengan modal sendiri, sedangkan struktur keuangan mencerminkan perimbangan seluruh hutang (baik jangka panjang maupun jangka pendek) dengan modal sendiri (Weston dan Brigham, 1994: 97).
Struktur atau komposisi modal harus diatur sedemikian rupa sehingga terjamin stabilitas finansial perusahaan, memang tidak ada ukuran yang pasti mengenai jumlah dan komposisi modal dari tiap-tiap perusahaan, tetapi pada dasarnya pengaturan terhadap struktur modal dalam perusahaan harus berorientasi pada tercapainya stabilitas finansial dan terjaminnya kelangsungan hidup perusahaan.

2.  Faktor - Faktor yang Mempengaruhi Struktur Modal
Salah satu tugas manajer keuangan adalah memenuhi kebutuhan dana di dalam melakukan tugas tersebut manajer keuangan diharapkan adanya suatu variasi dalam pembelanjaan, dalam arti kadang-kadang perusahaan lebih baik menggunakan dana yang bersumber dari hutang kadang-kadang perusahaan lebih menggunakan modal sendiri (equity). Oleh karena itu, manajer keuangan di dalam operasi perlu berusaha untuk memenuhi sasaran tertentu mengenai pertimbangan antara lain besarnya hutang, modal sendiri yang tercemin dalam struktur modal perusahaan perlu diperhitungkan berbagai faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan struktur modal yang dapat diuraikan antara lain: (Brigham dan Houston, 2010: 188-190)
1.        Stabilitas Penjualan.
Suatu perusahaan yang penjualannya relatif stabil dapat secara aman mengambil hutang dalam jumlah yang besar dan mengeluarkan beban tetap yang lebih tinggi dibandingkan dengan perusahaan yang penjualannya tidak stabil.
2.        Struktur Aset.
Perusahaan yang asetnya memadai digunakan sebagai jaminan pinjaman cenderung akan cukup banyak menggunakan hutang. Aset umum yang dapat digunakan oleh banyak perusahaan dapat menjadi jaminan yang baik, sementara tidak untuk dengan tujuan khusus.
3.        Leverage Operasi.
Jika hal yang lain dianggap sama, perusahaan dengan leverage operasi yang rendah akan lebih mampu menerapkan leverage keuangan karena perusahaan tersebut akan memiliki risiko usaha yang lebih rendah.
4.        Tingkat pertumbuhan.
Jika hal yang lain dianggap sama, maka perusahaan yang memiliki pertumbuhan lebih cepat harus lebih mengandalkan diri pada modal eksternal. Selain itu, biaya emisi yang berkaitan dengan jumlah saham biasa akan melebihi biaya emisi yang terjadi ketika perusahaan menjual hutang, mendorong perusahaan yang mengalami pertumbuhan pesat untuk lebih mengandalkan diri pada hutang. Namun, pada waktu yang bersamaan, perusahaan tersebut sering kali menghadapi ketidakpastian yang lebih tinggi, cenderung akan menurunkan keinginan mereka untuk menggunakan hutang.
5.        Profitabilitas.
Seringkali diamati bahwa perusahaan dengan tingkat pengembalian atas investasi yang sangat tinggi ternyata menggunakan hutang dalam jumlah yang relatif sedikit. Meskipun tidak ada pembenaran teoritis atas fakta ini. Tingkat pengembalian yang tinggi memungkinkan perusahaan-perusahaan tersebut melakukan sebagian besar pendanaannya melalui dana yang dihasilkan secara internal.
6.        Pajak.
Bunga merupakan suatu beban pengurangan pajak, dan pengurangan ini lebih bernilai bagi perusahaan dengan tarif pajak yang tinggi. Jadi makin tinggi tarif pajak suatu perusahaan, maka makin besar keunggulan dari hutang.
7.        Kendali.
Pengaruh hutang dibandingkan saham pada posisi kendali suatu perusahaan dapat mengurangi struktur modal. Jika saat ini manajemen memiliki kendali hak suara (lebih dari 50% saham) tetapi tidak berada pada posisi untuk membeli saham tambahan lagi, maka manajemen mungkin akan memilih hutang sebagai pendanaan baru. Di lain pihak, manajemen mungkin memutuskan untuk menggunakan ekuitas jika situasi perusahaan begitu lemah sehingga penggunaan hutang mungkin dapat membuat perusahaan menghadapi risiko gagal bayar, karena jika perusahaan gagal bayar, manajer kemunginan akan kehilangan pekerjaannya. Akan tetapi, jika penggunaan hutang terlalu sedikit, manajemen menghadapi risiko pengambilalihan. Jadi, pertimbangan kandali dapat mengarah pada penggunaan baik itu hutang maupun ekuitas karena jenis modal yang memberikan pelindungan terbaik kepada manajemen akan bervariasi dari satu situasi kesituasi yang lain. Apa pun kondisinya, jika mananjemen merasa tidak aman, maka manajemen akan mempertimbangkan situasi kendali.
8.        Sikap manajemen
Tidak ada yang dapat membuktikan bahwa struktur modal akan mengarah pada harga saham yang lebih tinggi dibandingkan struktur modal yang lain. Manajemen dapat melakukan pertimbangannya sendiri mengenai struktur modal yang tepat. Beberapa manajemen cenderung lebih konservatif dibandingkan yang lain, dan menggunakan hutang dalam jumlah yang relatif kecil dibandingkan dengan rata-rata perusahaan didalam industrinya, sementara manajemen yang agresif lebih banyak menggunakan hutang dalam usaha mereka untuk mendapatkan laba yang lebih tinggi.

9.        Sikap pemberian pinjaman dan lembaga pemeringkat
Tanpa mempertimbangkan analisis manajemen sendiri atas faktor leverage yang tepat bagi perusahaan, sikap pemberian pinjaman dan lembaga pemeringkat sering kali akan mempengaruhi keputusan struktur keuangan. Perusahaan sering kali akan  membahas struktur modalnya dengan pihak pemberi pinjaman dan lembaga pemeringkat serta sangat memperhatikan saran mereka.
10.    Kondisi pasar
Kondisi pasar saham dan obligasi mengalami perubahan dalam jangka panjang maupun jangka pendek yang dapat memberikan arah penting pada struktur modal optimum suatu perusahaan. Perusahaan berperingkat rendah yang membutuhkan modal terpaksa pergi kepasar saham atau pasar hutang jangka pendek, tanpa melihat sasaran struktur modalnya. Namun, ketika kondisi melonggar, perusahaan ini menjual obligasi jangka panjang untuk mengembalikan struktur modalnya kembali kepada sasaran.
11.    Kondisi internal perusahaan
Kondisi internal suatu perusahaan sendiri juga dapat berpengaruh pada sasaran struktur modalnya. Misalnya perusahaan baru berhasil menyelesaikan suatu program litbang, dan perusahaan berhasil meramalkan laba yang lebih tinggi dalam jangka waktu yang tidak lama lagi. Namun, laba yang baru ini belum diantisipasi oleh investor, sehingga tidak tercermin pada harga sahamnya. Perusahaan tersebut tidak akan menerbitkan saham, perusahaan lebih memilih melakukan pendanaan dengan hutang sampai laba lebih tinggi terwujud dan tercermin pada harga saham. Selanjutnya, perusahaan dapat menjual penerbitan saham biasa, menggunakan hasilnya untuk melunasi hutang dan kembali pada struktur modalnya.
12.    Fleksibilitas keuangan.
Sasaran utama perusahaan selalu berada dalam posisi yang dapat menghimpun modal untuk mendukung operasi. Menghimpun modal dilakukan baik melalui saham ataupun obligasi, tetapi apabila keadaan memburuk, pemasok modal akan lebih bersedia menyediakan dana jika perusahaan memberikan mereka posisi yang kuat. Selain itu, ketika perusahaan menjual saham baru, maka hal ini akan mengirimkan sinyal negatif kepada investor, sehingga penjualan saham yang dilakukan oleh perusahaan yang sudah mapan merupakan suatu tindakan yang tidak diinginkan.
3.  Bentuk Struktur Modal
Adapun bentuk dari struktur modal dilihat dari jenis yang digunakan dapat dibedakan menjadi 2, seperti yang dikemukakan oleh Weston & Brigham (2001: 31):
1.        Simple Capital Structure
Yaitu apabila perusahaan hanya menggunakan modal sendiri saja. Dengan demikian, tidak ada ketergantungan perusahaan terhadap modal dari pihak luar dan cakupan mengandalkan modal sendiri.
2.        Complex Capital Structure
Yaitu apabila perusahaan menggunakan modal sendiri dan modal pinjaman jangka panjang. Dalam hal ini, ada beberapa kategori dari bentuk struktur modal ini, yaitu:
-          Apabila perusahaan dalam memenuhi kebutuhan dananya mengutamakan pemenuhan sumber dari dalam perusahaan, akan sangat mengurangi ketergantungan kepada pihak luar.
-          Apabila dalam pemenuhan kebutuhan dana dari sumber eksternal tersebut perusahaan lebih mengutamakan pada hutang saja, maka ketergantungan perusahaan pada pihak luar akan makin besar dan risiko keuangannya pun semakin besar.

4.  Teori Struktur Modal
            Berikut ini merupakan teori struktur modal yaitu:
1.     Agency Theory
Teori agensi (Horne, 1995 dalam Hasa 2008) adalah suatu teori yang menjelaskan adanya pertentangan posisi antara manajemen (sebagai agen) dengan pemegang saham (sebagai pemilik). Para pemegang saham berharap agar agen akan bertindak atas kepentingan mereka sehingga dapat meningkatkan nilai perusahaan, sekaligus memberikan keuntungan pada pemegang saham. Untuk melakukan fungsinya dengan baik, maka manajemen harus diberikan intensif yang memadai, dan juga sekaligus pengawasan yang baik. Pengawasan dapat dilakukan dengan cara-cara seperti pengikatan agen, pemeriksaan laporan keuangan perusahaan, dan pembatasan terhadap keputusan yang dapat diambil manajemen. Kegiatan pengawasan tentu saja membutuhkan biaya. Biaya ini yang disebut dengan biaya agensi. Biaya yang timbul pasti merupakan tanggungan pemegang saham.
2.    Pecking Order Theory
Menurut Myer (1984) dalam Hasa (2008), pecking order theory menyatakan bahwa:
a)    Perusahaan menyukai internal financing (pendanaan dari hasil operasi perusahaan, yang berwujud laba ditahan).
b)   Apabila dana dari luar (external financing) diperlukan maka perusahaan akan menerbitkan sekuritas yang paling aman terlebih dahulu, yaitu: dimulai dengan menerbitkan obligasi, kemudian diikuti oleh sekuritas yang berkarakteristik opsi (seperti obligasi konversi), baru kemudian apabila masih belum mencukupi akan menerbitkan saham baru.
Sesuai dengan teori ini, tidak ada suatu target debt equity ratio, karena ada dua jenis modal sendiri, yaitu internal dan eksternal. Perusahaan lebih menyukai penggunaan dana dari modal internal yakni dana yang berasal dari aliran kas, laba ditahan dan depresiasi. Urutan penggunaan sumber dana dengan mengacu pada pecking order theory adalah internal fund (dana internal), debt (hutang) dan equity (modal sendiri).
Dana internal lebih disukai dari dana eksternal karena dana ekternal memungkinkan perusahaan untuk tidak perlu “membuka diri lagi” dari sorotan pemodal luar. Kalau bisa memperoleh sumber dana yang diperlukan tanpa memperoleh “sorotan dan publisitas publik” sebagai akibat penerbitan saham baru.
Dana eksternal lebih disukai dalam bentuk hutang dari pada modal sendiri karena dua alasan (Suad: 1996 dalam Hasa 2008), yaitu:
a.    Pertimbangan biaya emisi.
Biaya emisi obligasi lebih murah dari biaya saham baru. Hal ini disebabkan karena penerbitan saham baru akan menurunkan harga saham lama.
b.    Manajer khawatir kalau penerbitan saham baru akan ditafsirkan sebagai kabar buruk (bad news) oleh para pemodal dan membuat harga saham akan turun. Hal ini disebabkan antara lain oleh kemungkinan adanya asimetrik antara pihak manajemen dengan pihak pemodal.
3.    Trade Off Theory
Merupakan model struktur modal yang mempunyai asumsi bahwa struktur modal perusahaan merupakan keseimbangan antara keuntungan penggunaan hutang dengan biaya financial distress (kesulitan keuangan) dan agency cost (biaya keagenan). Dari model dapat dinyatakan bahwa perusahaan yang tidak menggunakan pinjaman sama sekali dan perusahaan yang menggunakan pembiayaan investasinya dengan pinjaman seluruhnya adalah buruk. Keputusan yang terbaik adalah keputusan yang moderat dengan mempertimbangkan kedua instrument pembiayaan. Trade off theory merupakan model yang didasarkan pada trade off antara keuntungan dan kerugian penggunaan hutang. Trade off tersebut dipengaruhi oleh beberapa variabel. Umumnya oleh keuntungan pajak dari penggunaan hutang, risiko financial distress dan penggunaan biaya agensi. Berdasarkan realita yang berasal dari hutang dalam jumlah yang besar, penggunaan modal sendiri mempunyai manfaat dan kerugian bagi perusahaan. Menurut Brigham (2001) dalam Hasa (2008), hutang mempunyai keuntungan pada:
a.       Biaya bunga yang mempengaruhi penghasilan kena pajak, sehingga hutang menjadi lebih rendah.
b.      Kreditur hanya mendapatkan biaya bunga yang bersifat relatif tetap, kelebihan keuntungan akan menjadi klaim bagi pemilik perusahaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar