Dividen
1.
Kebijakan Dividen
Menurut Rose et al (1999)
dalam penelitian Dini Rosdini (2009) dividen adalah suatu bentuk
pembayaran yang dilakukan oleh perusahaan kepada para pemiliknya, baik dalam
bentuk kas maupun saham. Dividen adalah bagian dari laba
bersih yang dibagikan kepada pemegang saham. Selain dibagikan
kepada pemegang saham dalam bentuk dividen, sebagian dari
laba bersih itu ditahan di dalam perusahaan untuk membiayai operasi perusahaan
pada periode berikutnya yang bisa disebut laba ditahan (retained
earning). Rasio antara pemberian dividen dengan laba
bersih disebut dividen payout ratio. Semakin kecil dividen
payout ratio, maka akan semakin kecil dividen yang akan dibagikan
kepada pemegang saham. Namun semakin besar dividen payout ratio semakin
besar pula dividen yang dibagikan kepada pemegang saham,
dan semakin kecil laba yang ditahan untuk kegiatan operasional
perusahaan berikutnya. Sepintas para pemegang saham merasa senang
apabila dividen yang diberikan kepadanya itu besar, padahal apabila
pendanaan perusahaan menggunakan laba ditahan, hal itu memiliki cost of capital
yang paling kecil, jika dibandingkan pendanaan perusahaan menggunakan
hutang. Sehingga perlu ditentukan suatu kebijakan dividen yang
optimal dengan konsep memaksimumkan nilai perusahaan.
2. Pendekatan dalam Kebijakan Dividen
Indriyo dan Basri (2002: 227) menyatakan terdapat 2
(dua) pendekatan di dalam membahas masalah dividen yaitu:
1. Sebagai Kebijaksanaan Pembelanjaan Jangka Panjang
Pendekatan ini berpandangan bahwa semua laba sesudah
pajak yang diperoleh perusahaan adalah merupakan sumber dana jangka panjang.
Pengumuman atas pembagian laba sebagai dividen berarti pengurangan
terhadap sumber dana jangka panjang yang dapat dipergunakan di dalam kegiatan
perusahaan. Oleh karena itu pembagian dividen berakibat penekanan
terhadap perkembangan usaha. Pendekatan ini berpendapat di dalam membentuk
biaya kapital yang rendah didapat dari pembentukan struktur modal yang sebagian
besar dana diperoleh dari modal sendiri
2. Sebagai Kebijaksanaan untuk Memaksimumkan Nilai
Perusahaan
Pendekatan ini berpendapat bahwa kebijaksanaan dividen
mempunyai pengaruh yang kuat terhadap harga pasar dari saham yang beredar.
Oleh karena itu, perusahaan dituntut untuk membagikan dividen sebagai realisasi
dari harapan investor dalam mengeluarkan uangnya untuk membeli saham tersebut.
3. Kebijaksanaan Dividen
Dalam kebijaksanaan pembayaran dividen pada
garis besarnya adalah (Indriyo dan Basri, 2002: 230):
1. Stable Dividend Policy (Kebijaksanaan Dividen
yang Stabil)
Pada kebijaksanaan ini,
besarnya dividen yang dibayarkan selalu stabil dalam jumlah yang tetap,
walaupun terjadi fluktuasi dalam laba bersih.
2. Fluctuating Dividen Policy (Kebijakan Dividen
yang Fluktuasi)
Pada kebijaksanaan ini,
besarnya dividen yang dibayarkan didasarkan pada tingkat keuntungan pada
setiap akhir periode. Apabila tingkat keuntungan tinggi, maka besarnya dividen
yang dibayarkan relatif tinggi, dan sebaliknya bila tingkat keuntungan
rendah, maka besarnya dividen yang dibayarkan juga rendah, atau dapat
dikatakan besarnya selalu proporsional dengan tingkat keuntungannya.
3. Kombinasi Stable dan Fluctuating
Dividen
Pada kebijakan
kombinasi ini, besarnya dividen yang dibayarkan sebagian ada yang
bersifat stabil, tetapi sebagian lagi bersifat proporsional dengan tingkat
keuntungan yang dicapai. Apabila perusahaan tidak mendapatkan laba, para
pemegang saham masih mendapatkan dividen tetap. Tetapi apabila
perusahaan mendapatkan keuntungan tinggi, maka pembayaran dividen juga
diberikan tinggi.
4. Teori Kebijakan Dividen
Dalam banyak hal, dividen sering diperlakukan
sebagai pertimbangan terakhir setelah pertimbangan investasi dan pertimbangan
pembiayaan lainnya, sehingga timbul the residual value theory of
dividend. Disamping itu, ada juga yang mempertimbangkan pembagian dividen
kas untuk mengurangi masalah keagenan.
Gitman (2003) dalam Dini (2009) memberikan definisi
kebijakan dividen sebagai suatu perencanaan tindakan perusahaan yang harus
dituruti ketika keputusan dividen harus dibuat. Sedangkan Lee dan Finerty
(1990) dalam Dini (2009) mengartikan kebijakan dividen sebagai suatu keputusan
perusahaan apakah akan membagikan earnings yang dihasilkan kepada para pemegang
saham atau akan menahan earnings untuk kegiatan reinvestasi dalam perusahaan.
Dengan demikian, kebijakan dividen merupakan
penggunaan laba bersih setelah pajak yang akan dibagikan kepada para pemegang
saham dan berapa besar bagian laba bersih yang akan digunakan untuk membiaya
investasi perusahaan. Apabila perusahaan memilih untuk membagikan laba yang
diperolehnya dalam bentuk dividen, maka akan mengurangi retained earnings dan
selanjutnya mengurangi total sumber dana internal. Sebaliknya, jika perusahaan
memilih untuk menahan laba yang diperolehnya, maka kemampuan pembentukan dana
internal akan semakin besar.
Kebijakan dividen yang optimal adalah kebijakan
dividen yang menciptakan keseimbangan diantara dividen saat ini dan pertumbuhan
di masa mendatang sehingga dapat memaksimumkan harga saham perusahaan. (Dini,
2009)
Berikut ini adalah pemaparan mengenai beberapa teori
kebijakan dividen:
1.
Hipotesis Kontrak
Konsep dasar hipotesis kontrak digambarkan oleh
Myers (1977, dalam Dini 2009) sebagai berikut: IOS (Investment
Opportunity Set) perusahaan merupakan call
option (hak untuk melakukan pembelian atau investasi di masa mendatang pada
tingkat harga tertentu) yang nilainya bergantung pada kecenderungan bahwa
manajemen akan melaksanakan kesempatan tersebut. Jika perusahaan memiliki
hutang yang berisiko tinggi dan dengan hutang tersebut perusahaan melaksanakan
pilihan untuk menjalankan proyek yang memiliki net present value positif,
maka akan terdapat kemungkinan terjadinya penurunan nilai perusahaan.
Hubungan antara kebijakan investasi dan dividen
dapat diidentifikasi melalui arus kas perusahaan, yaitu semakin besar jumlah
investasi dalam satu periode tertentu, akan semakin kecil dividen yang
diberikan. Dengan demikian perusahaan yang bertumbuh (aktif melakukan kegiatan
investasi) diidentifikasi sebagai perusahaan yang free cash flow-nya rendah
(Jensen, 1986 dalam Dini 2009) dengan pembayaran dividen yang rendah pula.
Argumentasi mengenai hipotesis kontrak adalah new
issue market merupakan salah satu cara menurunkan biaya agensi, karena
berarti terjadi peningkatan pengawasan terhadap manajer oleh pemegang saham
yang jumlahnya menjadi lebih banyak atau hak control yang lebih besar bagi
pemegang saham. Oleh karena itu, perusahaan yang memiliki pilihan pertumbuhan
yang rendah akan segan atau jarang melakukan new issue market. Salah
satu cara mempertahankan nilai modal saham yang ada adalah dengan membayar dividen
lebih tinggi (Rozef 1982 dan Easterbrook 1984, dalam Dini 2009).
2.
Hipotesis Pecking Order
Hipotesis Pecking Order yang dikemukakan oleh
Myers & Majluf (1984) dalam Dini (2009) menyatakan bahwa perusahaan yang profitable
memiliki dorongan untuk membayar dividen relatif rendah dalam rangka
memiliki dana internal lebih banyak untuk membiayai proyek-proyek investasinya.
Bahkan bagi perusahaan bertumbuh, peningkatan dividen dapat menjadi berita
buruk (bad news) karena diduga perusahaan telah mengurangi rencana
investasinya (Kalay 1982, dalam Dini 2009).
3.
Hipotesis Sinyal
Hipotesis sinyal yang dikemukakan oleh Miller &
Rock (1985) di dalam Dini (2009) menyatakan bahwa perusahaan yang berkualitas
tinggi akan membayar dividen lebih tinggi. Jika sinyal meningkat karena adanya
disparitas informasi antara manajer dengan investor, maka perusahaan yang
memiliki disparitas informasi besar yang biasanya merupakan perusahaan yang
memiliki pilihan pertumbuhan yang kecil akan membayarkan dividen lebih tinggi
(hubungan negatif) sebagai sinyal bahwa kondisi perusahaan baik.
4.
Residual Dividend Policy
Kebijakan ini menyatakan bahwa dividen yang
dibayarkan merupakan sisa dari laba perusahaan setelah dikurangkan dengan yang
dibayarkan untuk membiayai perencanaan modal perusahaan (Weston dan Brigham,
1993 dalam Dini 2009). Artinya, perusahaan membayarkan dividen hanya jika
terdapat kelebihan dana atas laba perusahaan yang digunakan untuk membiayai
proyek yang telah direncanakan. Dasar dari kebijakan ini adalah bahwa investor
lebih menyukai perusahaan menahan dan menginvestasikan kembali laba daripada
membagikannya dalam bentuk dividen apabila laba yang diinvestasikan kembali
tersebut dapat menghasilkan return yang lebih tinggi daripada return rata
rata yang dapat dihasilkan investor dari investasi lain dengan risiko yang
sebanding.
5. Faktor-faktor
yang Mempengaruhi Pemberian Dividen Suatu Perusahaan
Menurut Bambang (1979:
209) dalam Tesis Daniel S. Sembiring (2009), faktor-faktor yang mempengaruhi
pemberian dividen suatu perusahaan ialah:
1. Posisi Likuiditas Perusahaan
Posisi kas atau likuiditas perusahaan
merupakan faktor yang penting untuk dipertimbangkan sebelum mengambil keputusan
seberapa besar dividen yang akan dibagi. Semakin likuid perusahaan,
berarti makin besar kemampuannya untuk membayar dividen. Bagi perusahaan
yang sedang tumbuh, mungkin likuiditasnya tidak terlalu besar, sehingga
mempengaruhi perusahaan tersebut di dalam membayar cash dividen.
2. Kebutuhan Dana untuk Membayar Hutang
Setiap perusahaan pasti memiliki hutang
yang berbeda-beda tingkat jatuh temponya. Pada saat jatuh tempo, perusahaan
diharuskan untuk membayar hutangnya tersebut. Apabila perusahaan menetapkan
bahwa pelunasan hutangnya akan diambil dari laba ditahan, berarti perusahaan
harus menahan sebagian besar dari pendapatannya untuk keperluan tersebut, yang
berarti bahwa akan semakin kecil dividen yang akan dibayarkan
perusahaan.
3. Tingkat Perluasan Perusahaan
Makin cepat tingkat pertumbuhan suatu
perusahaan, maka akan makin besar kebutuhan akan dana untuk membiayai
pertumbuhan perusahaan tersebut. Semakin besar kebutuhan dana untuk membiayai
pertumbuhan perusahaan, maka perusahaan akan lebih senang untuk menahan laba
yang diperoleh, daripada membagikannya kepada pemegang saham.
4. Pengawasan terhadap Perusahaan
Terdapat perusahaan yang lebih senang menggunakan
sumber dana intern di dalam membiayai kegiatan operasinya. Alasannya adalah
apabila ekspansi perusahaan dibiayai dari penjualan saham baru, maka akan
mengurangi kontrol dari kelompok yang dominan di dalam perusahaan. Jika
ekspansi perusahaan dibiayai oleh hutang, akan memperbesar risiko finansial.
Sehingga apabila perusahaan lebih mempercayakan sumber dana intern dalam membiayai
kegiatan perusahaan, bisanya akan mengurangi dividen pay out ratio yang
akan dibagi.
6. Dividen Payout Ratio
Dividen
merupakan aliran kas yang dibayarkan kepada para pemegang saham ”equity
investors”, sedangkan laba ditahan merupakan salah satu dari sumber dana
yang paling penting untuk membiayai pertumbuhan perusahaan. Setiap perusahaan
selalu ingin adanya pertumbuhan bagi perusahaan tersebut disatu pihak dan juga
dapat membayarkan dividen kepada para pemegang saham dilain pihak, tetapi
tujuan tersebut selalu bertentangan. Sebab kalau makin tinggi tingkat dividen
yang dibayarkan, berarti makin sedikit laba yang dapat ditahan, dan sebagai
akibatnya ialah menghambat tingkat pertumbuhan (rate of growth) dalam
pendapatan dan harga sahamnya. Kalau perusahaan ingin menahan sebagian besar
dari pendapatan tetapnya di dalam perusahaan, berarti bahwa bagian dari
pendapatan yang tersedia untuk pembayaran dividen makin kecil. Persentase dari
pendapatan yang akan dibayarkan kepada para pemegang saham sebagai ”cash
dividend” disebut dividen payout ratio (Bambang, 1997: 266). Pengertian lain Dividend Payout Ratio (DPR)
adalah perbandingan antara dividen per share dengan earning per share.
Menurut Gitman (2003) dalam Dini (2008) dividen
payout ratio merupakan indikasi atas presentase jumlah pendapatan yang
diperoleh dan didistribusikan kepada pemilik atau pemegang saham dalam bentuk
kas. DPR digunakan untuk mengukur berapa rupiah yang diberikan kepada pemegang
saham dari keuntungan yang diperoleh perusahaan setelah dikurang pajak. Dividen yang mengalami peningkatan dan
penurunan secara drastis akan berpengaruh langsung terhadap dividen payout
ratio yang dihasilkan, sehingga investor atau pemegang saham dapat melihat
bahwasanya perusahaan sukar untuk diprediksi.
Secara
teori, pembagian dividen memberikan
sinyal positif kepada para investor akan prospek saham karena mengindikasikan
kemampuan perusahaan untuk menghasilkan keuntungan. Selain itu, investor akan
bereaksi terhadap perubahan dividen
payout ratio (DPR). Penurunan payout
ratio akan ditanggapi negatif karena menggambarkan penurunan kemampuan
perusahaan dalam menghasilkan kas dan sebaliknya peningkatan payout ratio akan ditanggapi positif
oleh investor.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar